Dendam, Benci dan Amarahku
ku pandangi sosok itu dengan
perasaan berkecamuk. Benci, marah, dendam,
bahagia, bersyukur, campur
aduk dalam hati. Benci padanya yang telah
memfitnah keluargaku. Marah
padanya yang telah merendahkan martabat
keluargaku. Dendam padanya
yang telah menginjak-injak harga diri keluargaku. Bahagia
karena saat ini aku
melihatnya menderita dan tak berdaya. Bersyukur karena Tuhan telah
mendengar doaku agar dia
mendapat balasan yang setimpal atas segala perbuatannya.
Sosok itu, wanita yang
kira-kira berumur 40 tahun, kembali meminta tolong
kepadaku. Dengan suara yang
tertahan dan tubuh yang berlumuran darah dia menatapku
dengan penuh harap. Tapi
aku, yang berdiri tak jauh darinya, hanya terdiam dengan
tatapan penuh dendam dan kebencian.
Bagaimana tidak, sosok yang sekarang ada di
depanku adalah orang yang
menghancurkan keluargaku. Membuat kami sekeluarga
menutup telinga dan menahan
sakit ketika semua orang mempergunjingkan kami,
membuat semua orang menjauh
dari kami, menyebabkan ibuku mengalami depresi
hingga harus dirawat di
rumah sakit selama berbulan-bulan dan membuat kakak
perempuanku menangis selama
berhari-hari meratapi nasib cintanya.
Ya, dulu kakakku dan anak
laki-laki wanita itu pernah menjalin kasih. Merangkai
harapan tuk raih
kebahagiaan. Tapi, dengan tangan dinginnya, wanita itu telah
menghapus harapan indah
tersebut. Wanita itu tanpa perasaan telah memisahkan
kakakku dengan anaknya
dikarenakan kakakku berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Benar, kami memang hidup pas-pasan.
Ayah cuma seorang petani yang menggarap
sawah milik orang lain.
Sedangkan ibu, untuk membantu perekonomian keluarga, harus
berjualan makanan di pasar.
Sangat ‘sinetron’ memang, tapi itulah kenyataanya. Kami
tidak sedang memainkan
peran, melainkan benar-benar merasakan langsung derita itu.
Sejatinya kami tidak
keberatan dengan keputusan wanita itu dan kakakku pun
ikhlas ketika harus
berpisah dengan laki-laki yang dicintainya. Kami tau diri. Tapi kenapa
wanita itu masih harus
menjelek-jelekkan keluarga kami di tengah masyarakat,
K
Kumpulan
Cerpen
14
memfitnah keluarga kami.
Pada semua orang, wanita itu bilang bahwa keluarga kami
sengaja menipu anak
laki-lakinya dengan jerat cinta kakakku untuk mengeruk hartanya.
Mereka menuduh kamu kami
main dukun, bahkan santet. Tak ketinggalan pula berbagai
hal buruk lainnya tentang
keluarga kami yang kesemuanya adalah fitnah. Tapi dari semua
itu yang tak bisa aku
terima adalah ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipi
kakakku. Dan parahnya, kami
semua hanya bisa diam menahan sakit.
Wanita itu kembali meminta
tolong kepadaku. Kali ini suaranya terdengar lirih.
Sepertinya dia sudah mulai
kehabisan darah. Tadi, ada dua orang pencuri mengentikan
mobil wanita itu. Si
pencuri yang ternyata telah bekerja sama dengan si sopir, menarik
paksa keluar wanita itu dan
meraup habis perhiasan dan benda berharga miliknya. Ketika
wanita itu hendak melawan,
dua tusukan terpaksa menancap di tubuhnya. Pencuri dan
sopir itu pun segera
melarikan diri.
Aku memang cuma bisa
menyaksikan kejadian itu dari jauh. Ketika aku bergegas
mendekat, semuanya telah
terlambat. Wanita itu telah terbujur dengan lumuran darah.
Tapi entah kenapa, sisi
lain hatiku mengatakan kalaupun saat itu aku berada dekat
dengannya, aku tidak akan
menolongnya saat pencuri itu beraksi.
“T-o-l-o----ng… T-o-l-o-ng
s-a-y-a… s-a-y-a m-o-h-o-n…” Wanita itu kembali
berucap terbata-bata
meminta tolong. Sampai saat ini aku memang belum berbuat apaapa.
Jalanan sepi, jarang ada
kendaraan atau orang lain yang lewat. Hanya kami berdua.
Terserah orang mau bilang
aku jahat. Tapi aku senang melihatnya menderita, suka
melihatnya tidak berdaya
dan bahagia melihatnya memohon-mohon seperti itu.
“T-o-l-o----ng…” Wanita itu
terus memaksakan bicara. Keadaannya semakin
menyedihkan.
Ada apa denganku? Bukankah
harusnya aku prihatin pada keadaannya saat ini.
Bukankah aku harus
menolongnya. Membawa ke rumah sakit atau sekedar mencari
bantuan. Tapi betapapun
hatiku ingin melakukan itu semua, sisi lain hatiku memilih diam
dan tetap membiarkannya
menderita hingga menemui ajal. Astaghfirullah, apakah aku
benar-benar menjadi sosok
yang jahat sekarang. Apakah dendam, benci dan amarah
Kumpulan
Cerpen
15
benar-benar telah
membutakan mataku. Bukankah selama ini Tuhan telah
menghukumnya. Ia telah
kehilangan suami karena kecelakaan, anak laki-lakinya setelah
pisah dengan kakakku
menjadi pecandu obat-obatan terlarang, yang terakhir, anak
perempuannya melahirkan
bayi tanpa seorang suami. Dan Semua itu membuat
keluarganya jadi bahan
pergunjingan masyarakat. Semua itu, bukankah semua itu sudah
cukup untuk menghukumnya.
Bukankah itu seharusnya membuat hatiku bersih dari noda
dendam, benci dan amarah.
Bukankah itu kisah lama, kisah pahit 4 tahun silam. Bukankah
keluarga kami telah bersih
dari fitnah masyarakat. Ibu telah sembuh sejak lama. Dan
kakakku, sekarang telah
hidup bahagia, berkeluarga, hidup berkecukupan dan telah
mempunyai seorang anak.
Oh Tuhan, apa yang
sebenarnya merasuki diriku. Kenapa begitu sulit bagiku
untuk melupakan semua rasa
itu. Aku benar-benar telah buta karenannya.
Akhirnya dalam kebimbangan,
aku berlalu meninggalkannya. Menstarter motor
dan segera pergi dari
tempat itu. Aku sempat melihat sorot matanya yang terus
memohon.
***
Beberapa menit kemudian,
aku telah sampai pada tujuanku. Aku segera turun
dari motor. Sebuah mobil
angkutan umum yang tadi mengikutiku ikut berhenti. Aku
kemudian memandu sopir yang
aku kenal itu ke sesuatu tempat tak jauh dari tempat
kami parkir.
Wanita itu masih disana.
Dia masih tersadar saat aku dan sopir angkut
mendatanginya. Tanpa
menunggu lama, kami pun membopong tubuh wanita itu,
memasukkannya ke dalam
angkot dan segera melarikannya ke rumah sakit. Kali ini aku
melihat matanya
berkaca-kaca saat menatapku. Aku tak tau apa yang dia pikirkan.
Terharu atau berterima
kasih, entahlah. Aku tidak memperdulikannya. Mengenai
dendam, benci dan amarah
yang kura sakan, terus terang belum sepenuhnya hilang. Aku
Kumpula
16
memang memutuskan untuk
menolong wanita itu, tapi bukan berarti semua rasa itu
hilang. Rasa itu masih
membekas dalam hati.
***
Beberapa saat kemudian,
keluarganya mulai berdatangan. Tadi, saat dalam
perjalanan ke rumah sakit
aku menghubungi orang yang rumahnya dekat dengan wanita
itu. Aku pun segera
menyingkir dari tempat itu setelah merasa bahwa tugasku telah
selesai.
“Alan, Tunggu!”
Seseorang menghentikan
langkahku. Suara itu, meski sudah lama aku masih
mengenalnya. Suara
laki-laki yang telah menghancur leburkan hati kakakku. Laki-laki yang
lebih percaya pada fitnahan
ibunya daripada kakakku. Lelaki macam apa yang
menganggap kekasihnya
sebagai gadis murahan pengeruk harta. Padahal mereka telah
menjalin hubungan lebih
dari dua tahun, meskipun backstreet tapi tidakkah itu cukup
untuk mengetahui sifat dan
isi hati masing-masing.
“Sopir tadi bilang kamu
yang menolong Mama.”
Sial… aku lupa memberi tahu
sopir agar tidak mengatakannya. Aku tidak mau
dianggap cari muka didepan
keluarganya. Meski aku benci dengan wanita itu, tapi jujur
kali ini aku tulus
melakukannya.
“Dokter bilang terlambat
beberapa menit saja, nyawa Mama tidak
terselamatkan.”
Mendengar itu, entah kenapa
aku bersyukur.
“Terima kasih…”, ucapnya
lagi.
Sebuah kata yang sama
sekali tidak aku harapkan. Tapi kata itu terasa hangat
menjalar di hatiku, menyapu
bersih semua dendam, benci dan amarah yang aku rasakan
selama ini. Entahlah, tapi
aku merasa dia tulus mengatakannya. Aku tidak tau apakah itu
artinya bagus atau tidak
buatku.
Kumpulan
Cerpen
17
“Oh iya, aku punya sesuatu
untuk kamu.” Laki-laki itu kemudian merogoh
kantong belakangnya,
mengambil dompet, mengeluarkan beberapa uang seratus ribu
dan menyerahkan kepadaku.
Bagi ditusuk sembilu, aku
merasakan sakit yang luar biasa. Dendam, benci dan
amarah yang baru saja
hilang, dengan cepat kembali dan merajai hatiku.
“Kamu jangan berfikiran
negatif dulu. Aku tidak punya maksud apa-apa. Ini… ini
sebagai rasa terima
kasihku. Kamu terima ya!” Laki-laki itu menarik telapak tanganku dan
meletakkan uang di atasnya.
Biadab! Dia mengatakan dan
melakukan itu semua tanpa beban. Bagaimana dia
tidak merasa aku akan sakit
hati diperlakukan seperti itu.
Sebelum uang itu dia
lepaskan, aku lebih dulu menampik tangannya.
“Jadi begini caramu
berterima kasih. Jadi ini harga yang kamu berikan atas apa
yang aku lakukan…” Aku
tidak perduli lagi jika ucapanku tak beretika. “Bodoh sekali aku,
sempat berfikir bahwa kamu
berterima kasih dengan tulus…”
“Kamu jangan salah paham
dulu. Aku bisa…”
“Cukup! Kamu dan ibumu
ternyata sama… Sama-sama tidak punya hati.
Sebenarnya aku kasihan
padamu. Orang seperti kamu sampai kapanpun tidak
akan pernah tau apa itu
ketulusan apa itu kebaikan dan apa itu keikhlasan. Karena kalian
selalu memandang dan
mengukur semua hal dengan rupiah. Brengsek !” Aku segera
cabut. Aku takut tidak bisa
menahan dentuman emosi dalam hati.
Sialan ! Apa yang
sebenarnya yang dia pikirkan. Apa dia tidak punya perasaan.
Aku bahkan tidak butuh
terima kasih, apalagi uang darinya. Aku benar-benar merasa
terhina.
Aku pulang dengan membawa
dendam, benci dan amarahku. Bahkan lebih besar
dari sebelumnya. Aku tidak
menyarankan orang lain untuk mendendam, membenci atau
menyimpan amarah. Rasanya
sangat menyakitkan. Dendam, benci dan amarah akan
membuat hidup kita merugi.
Bagaimana tidak, setiap hari, setiap waktu, jam, menit
bahkan tiap detik, yang
kita pikirkan hanya bagaimana cara membuat orang yang kita
Kumpulan Cerpe
18
benci menderita. Sementara,
orang yang kita benci bisa saja hidup dengan tenang tanpa
peduli dengan apa yang kita
rasakan.
Aku tau rasanya mendendam.
Aku tau rasanya membenci. Aku tau rasanya
menyimpan amarah. Semuanya
melelahkan dan menyakitkan. Tapi setelah semua yang
terjadi, aku memilih
menahan sakit, menyimpan semua rasa itu. Entah sampai kapan. Aku
tak tau…
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar