Sabtu, 01 Oktober 2011
Jumat, 30 September 2011
Dendam, Benci dan Amarahku
ku pandangi sosok itu dengan
perasaan berkecamuk. Benci, marah, dendam,
bahagia, bersyukur, campur
aduk dalam hati. Benci padanya yang telah
memfitnah keluargaku. Marah
padanya yang telah merendahkan martabat
keluargaku. Dendam padanya
yang telah menginjak-injak harga diri keluargaku. Bahagia
karena saat ini aku
melihatnya menderita dan tak berdaya. Bersyukur karena Tuhan telah
mendengar doaku agar dia
mendapat balasan yang setimpal atas segala perbuatannya.
Sosok itu, wanita yang
kira-kira berumur 40 tahun, kembali meminta tolong
kepadaku. Dengan suara yang
tertahan dan tubuh yang berlumuran darah dia menatapku
dengan penuh harap. Tapi
aku, yang berdiri tak jauh darinya, hanya terdiam dengan
tatapan penuh dendam dan kebencian.
Bagaimana tidak, sosok yang sekarang ada di
depanku adalah orang yang
menghancurkan keluargaku. Membuat kami sekeluarga
menutup telinga dan menahan
sakit ketika semua orang mempergunjingkan kami,
membuat semua orang menjauh
dari kami, menyebabkan ibuku mengalami depresi
hingga harus dirawat di
rumah sakit selama berbulan-bulan dan membuat kakak
perempuanku menangis selama
berhari-hari meratapi nasib cintanya.
Ya, dulu kakakku dan anak
laki-laki wanita itu pernah menjalin kasih. Merangkai
harapan tuk raih
kebahagiaan. Tapi, dengan tangan dinginnya, wanita itu telah
menghapus harapan indah
tersebut. Wanita itu tanpa perasaan telah memisahkan
kakakku dengan anaknya
dikarenakan kakakku berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Benar, kami memang hidup pas-pasan.
Ayah cuma seorang petani yang menggarap
sawah milik orang lain.
Sedangkan ibu, untuk membantu perekonomian keluarga, harus
berjualan makanan di pasar.
Sangat ‘sinetron’ memang, tapi itulah kenyataanya. Kami
tidak sedang memainkan
peran, melainkan benar-benar merasakan langsung derita itu.
Sejatinya kami tidak
keberatan dengan keputusan wanita itu dan kakakku pun
ikhlas ketika harus
berpisah dengan laki-laki yang dicintainya. Kami tau diri. Tapi kenapa
wanita itu masih harus
menjelek-jelekkan keluarga kami di tengah masyarakat,
K
Kumpulan
Cerpen
14
memfitnah keluarga kami.
Pada semua orang, wanita itu bilang bahwa keluarga kami
sengaja menipu anak
laki-lakinya dengan jerat cinta kakakku untuk mengeruk hartanya.
Mereka menuduh kamu kami
main dukun, bahkan santet. Tak ketinggalan pula berbagai
hal buruk lainnya tentang
keluarga kami yang kesemuanya adalah fitnah. Tapi dari semua
itu yang tak bisa aku
terima adalah ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipi
kakakku. Dan parahnya, kami
semua hanya bisa diam menahan sakit.
Wanita itu kembali meminta
tolong kepadaku. Kali ini suaranya terdengar lirih.
Sepertinya dia sudah mulai
kehabisan darah. Tadi, ada dua orang pencuri mengentikan
mobil wanita itu. Si
pencuri yang ternyata telah bekerja sama dengan si sopir, menarik
paksa keluar wanita itu dan
meraup habis perhiasan dan benda berharga miliknya. Ketika
wanita itu hendak melawan,
dua tusukan terpaksa menancap di tubuhnya. Pencuri dan
sopir itu pun segera
melarikan diri.
Aku memang cuma bisa
menyaksikan kejadian itu dari jauh. Ketika aku bergegas
mendekat, semuanya telah
terlambat. Wanita itu telah terbujur dengan lumuran darah.
Tapi entah kenapa, sisi
lain hatiku mengatakan kalaupun saat itu aku berada dekat
dengannya, aku tidak akan
menolongnya saat pencuri itu beraksi.
“T-o-l-o----ng… T-o-l-o-ng
s-a-y-a… s-a-y-a m-o-h-o-n…” Wanita itu kembali
berucap terbata-bata
meminta tolong. Sampai saat ini aku memang belum berbuat apaapa.
Jalanan sepi, jarang ada
kendaraan atau orang lain yang lewat. Hanya kami berdua.
Terserah orang mau bilang
aku jahat. Tapi aku senang melihatnya menderita, suka
melihatnya tidak berdaya
dan bahagia melihatnya memohon-mohon seperti itu.
“T-o-l-o----ng…” Wanita itu
terus memaksakan bicara. Keadaannya semakin
menyedihkan.
Ada apa denganku? Bukankah
harusnya aku prihatin pada keadaannya saat ini.
Bukankah aku harus
menolongnya. Membawa ke rumah sakit atau sekedar mencari
bantuan. Tapi betapapun
hatiku ingin melakukan itu semua, sisi lain hatiku memilih diam
dan tetap membiarkannya
menderita hingga menemui ajal. Astaghfirullah, apakah aku
benar-benar menjadi sosok
yang jahat sekarang. Apakah dendam, benci dan amarah
Kumpulan
Cerpen
15
benar-benar telah
membutakan mataku. Bukankah selama ini Tuhan telah
menghukumnya. Ia telah
kehilangan suami karena kecelakaan, anak laki-lakinya setelah
pisah dengan kakakku
menjadi pecandu obat-obatan terlarang, yang terakhir, anak
perempuannya melahirkan
bayi tanpa seorang suami. Dan Semua itu membuat
keluarganya jadi bahan
pergunjingan masyarakat. Semua itu, bukankah semua itu sudah
cukup untuk menghukumnya.
Bukankah itu seharusnya membuat hatiku bersih dari noda
dendam, benci dan amarah.
Bukankah itu kisah lama, kisah pahit 4 tahun silam. Bukankah
keluarga kami telah bersih
dari fitnah masyarakat. Ibu telah sembuh sejak lama. Dan
kakakku, sekarang telah
hidup bahagia, berkeluarga, hidup berkecukupan dan telah
mempunyai seorang anak.
Oh Tuhan, apa yang
sebenarnya merasuki diriku. Kenapa begitu sulit bagiku
untuk melupakan semua rasa
itu. Aku benar-benar telah buta karenannya.
Akhirnya dalam kebimbangan,
aku berlalu meninggalkannya. Menstarter motor
dan segera pergi dari
tempat itu. Aku sempat melihat sorot matanya yang terus
memohon.
***
Beberapa menit kemudian,
aku telah sampai pada tujuanku. Aku segera turun
dari motor. Sebuah mobil
angkutan umum yang tadi mengikutiku ikut berhenti. Aku
kemudian memandu sopir yang
aku kenal itu ke sesuatu tempat tak jauh dari tempat
kami parkir.
Wanita itu masih disana.
Dia masih tersadar saat aku dan sopir angkut
mendatanginya. Tanpa
menunggu lama, kami pun membopong tubuh wanita itu,
memasukkannya ke dalam
angkot dan segera melarikannya ke rumah sakit. Kali ini aku
melihat matanya
berkaca-kaca saat menatapku. Aku tak tau apa yang dia pikirkan.
Terharu atau berterima
kasih, entahlah. Aku tidak memperdulikannya. Mengenai
dendam, benci dan amarah
yang kura sakan, terus terang belum sepenuhnya hilang. Aku
Kumpula
16
memang memutuskan untuk
menolong wanita itu, tapi bukan berarti semua rasa itu
hilang. Rasa itu masih
membekas dalam hati.
***
Beberapa saat kemudian,
keluarganya mulai berdatangan. Tadi, saat dalam
perjalanan ke rumah sakit
aku menghubungi orang yang rumahnya dekat dengan wanita
itu. Aku pun segera
menyingkir dari tempat itu setelah merasa bahwa tugasku telah
selesai.
“Alan, Tunggu!”
Seseorang menghentikan
langkahku. Suara itu, meski sudah lama aku masih
mengenalnya. Suara
laki-laki yang telah menghancur leburkan hati kakakku. Laki-laki yang
lebih percaya pada fitnahan
ibunya daripada kakakku. Lelaki macam apa yang
menganggap kekasihnya
sebagai gadis murahan pengeruk harta. Padahal mereka telah
menjalin hubungan lebih
dari dua tahun, meskipun backstreet tapi tidakkah itu cukup
untuk mengetahui sifat dan
isi hati masing-masing.
“Sopir tadi bilang kamu
yang menolong Mama.”
Sial… aku lupa memberi tahu
sopir agar tidak mengatakannya. Aku tidak mau
dianggap cari muka didepan
keluarganya. Meski aku benci dengan wanita itu, tapi jujur
kali ini aku tulus
melakukannya.
“Dokter bilang terlambat
beberapa menit saja, nyawa Mama tidak
terselamatkan.”
Mendengar itu, entah kenapa
aku bersyukur.
“Terima kasih…”, ucapnya
lagi.
Sebuah kata yang sama
sekali tidak aku harapkan. Tapi kata itu terasa hangat
menjalar di hatiku, menyapu
bersih semua dendam, benci dan amarah yang aku rasakan
selama ini. Entahlah, tapi
aku merasa dia tulus mengatakannya. Aku tidak tau apakah itu
artinya bagus atau tidak
buatku.
Kumpulan
Cerpen
17
“Oh iya, aku punya sesuatu
untuk kamu.” Laki-laki itu kemudian merogoh
kantong belakangnya,
mengambil dompet, mengeluarkan beberapa uang seratus ribu
dan menyerahkan kepadaku.
Bagi ditusuk sembilu, aku
merasakan sakit yang luar biasa. Dendam, benci dan
amarah yang baru saja
hilang, dengan cepat kembali dan merajai hatiku.
“Kamu jangan berfikiran
negatif dulu. Aku tidak punya maksud apa-apa. Ini… ini
sebagai rasa terima
kasihku. Kamu terima ya!” Laki-laki itu menarik telapak tanganku dan
meletakkan uang di atasnya.
Biadab! Dia mengatakan dan
melakukan itu semua tanpa beban. Bagaimana dia
tidak merasa aku akan sakit
hati diperlakukan seperti itu.
Sebelum uang itu dia
lepaskan, aku lebih dulu menampik tangannya.
“Jadi begini caramu
berterima kasih. Jadi ini harga yang kamu berikan atas apa
yang aku lakukan…” Aku
tidak perduli lagi jika ucapanku tak beretika. “Bodoh sekali aku,
sempat berfikir bahwa kamu
berterima kasih dengan tulus…”
“Kamu jangan salah paham
dulu. Aku bisa…”
“Cukup! Kamu dan ibumu
ternyata sama… Sama-sama tidak punya hati.
Sebenarnya aku kasihan
padamu. Orang seperti kamu sampai kapanpun tidak
akan pernah tau apa itu
ketulusan apa itu kebaikan dan apa itu keikhlasan. Karena kalian
selalu memandang dan
mengukur semua hal dengan rupiah. Brengsek !” Aku segera
cabut. Aku takut tidak bisa
menahan dentuman emosi dalam hati.
Sialan ! Apa yang
sebenarnya yang dia pikirkan. Apa dia tidak punya perasaan.
Aku bahkan tidak butuh
terima kasih, apalagi uang darinya. Aku benar-benar merasa
terhina.
Aku pulang dengan membawa
dendam, benci dan amarahku. Bahkan lebih besar
dari sebelumnya. Aku tidak
menyarankan orang lain untuk mendendam, membenci atau
menyimpan amarah. Rasanya
sangat menyakitkan. Dendam, benci dan amarah akan
membuat hidup kita merugi.
Bagaimana tidak, setiap hari, setiap waktu, jam, menit
bahkan tiap detik, yang
kita pikirkan hanya bagaimana cara membuat orang yang kita
Kumpulan Cerpe
18
benci menderita. Sementara,
orang yang kita benci bisa saja hidup dengan tenang tanpa
peduli dengan apa yang kita
rasakan.
Aku tau rasanya mendendam.
Aku tau rasanya membenci. Aku tau rasanya
menyimpan amarah. Semuanya
melelahkan dan menyakitkan. Tapi setelah semua yang
terjadi, aku memilih
menahan sakit, menyimpan semua rasa itu. Entah sampai kapan. Aku
tak tau…
***
Risalah Hati
rian kembali mengerem
mobilnya dengan tiba-tiba. Lalu secepatnya juga
kembali tancap gas.
“Auuu…! Mas hati-hati dong
nyetirnya!” pinta gadis cantik yang duduk di kursi
belakang.
Seolah tidak mempedulikan
permintaan gadis tadi, Arian masih terus bermain
dengan rem da gas.
Arian, hatinya benar-benar
tidak tenang. Wajah berkeringat, matanya memerah
dan beberapa kali ia
mengeretakkan giginya. Ia seperti menahan amarah yang amat
besar. Terlebih tatkala
memikirkan gadis yang duduk di belakang, Ia seakan ingin
menabrakkan mobilnya atau
menjatuhkannya ke dalam jurang biar bisa mati bersama.
“Damn it!” umpat Arian dalam hati. Ia
memukul setir mobil dengan keras.
“Kenapa? Kenapa harus seperti ini?”
Kenapaaaa…!!!” jerit
hatinya.
“Mas! Mas ada masalah ya?
Kalau mas memang gak bisa nerusin, turunin aku
disini saja, gak papa. Tapi
mas tau kan, kalau untuk ini tetap ada tarifnya,” gadis itu
kembali berucap. Suaranya
lembut, penuh pesona meski dalam gelap. Arian memang
sengaja tidak menyalakan
lampu mobil.
Seakan menyulut api, hati
Arian makin membara. Entah kenapa, ia begitu benci
tatkala mendengar suara
gadis tadi. Amarah dalam hatinya langsung meledak-ledak. Tapi
mulutnya tetap tertahan
untuk mengucapkan umpatan atau amarah.
***
Arian memperlambat laju
mobilnya dan berhenti di salah satu rumah.
“Ini rumah mas?”
4
Arian tidak menjawab, ia
mematikan mesin dan langsung turun. Meski merasa
aneh, gadis itu ikut turun
dan mengikuti Arian. Tak sedikitpun ia protes dengan sikap
Arian yang dingin. Asal
punya uang, itu point terpenting baginya.
Arian membuka pintu,
berjalan beberapa langkah dan berhenti tanpa
membalikkan badan. Gadis
itu mengambil jarak di belakang Arian, ia memperhatikan
Arian. Sampai sekarang, ia
belum melihat wajah ‘klien’nya itu.
“Jadi ini rumah mas?
Bagus!” ucapnya berusaha mencairkan suasana.
“Gimana, mau ‘main’
sekarang atau mandi dulu?” ucapnya lagi. Kali ini penuh
rayu.
Arian tidak bergeming. Ia
kemudian membalikkan badannya dan menatap gadis
itu dengan tatapan dingin.
“Kamu???” Alangkah kagetya
gadis itu. Ia seakan tak percaya dengan apa yang
dilihatnya.
“Ya. Masih ingat aku?”
jawab Arian sinis.
“K-k-k-kamu… kamu Arian,
Arian Wiguna kan?”
“Iya, ini aku, Sas, Sasky
Fahira.”
“Apa? G-g-gak mungkin! Gak
mungkin!” ucap Sasky lirih. Matanya tiba-tiba
berair, harga dirinya
runtuh seketika begitu melihat sosok yang berdiri di depanya.
Mendadak seluruh tubuhnya
serasa hancur lebur.
***
Enam tahun lalu, saat masih
dibangku SMA, Arian dan Sasky adalah sahabat baik.
Mereka hampir bisa disebut
pacaran. Tapi kata-kata cinta, tak jua keluar dari mulut
mereka. Arian, ia terlalu
takut akan penolakan. Sedangkan Sasky, ia terlalu takut akan
perasaan yang tak imbang,
terlebih karena perbedaan status. Arian anak orang berada
sedangkan Sasky berlatar
belakang keluarga sangat sederhana, bahkan kadang
Kumpulan
Cerpen
5
kekuragan. Sayang, manusia
tidak diberi kemampuan membaca pikiran orang lain,
sehingga hubungan mereka
berdua tak pernah nyata.
***
“Jadi ini… pekerjaan kamu
sekarang, kupu-kupu malam. Merayu laki-laki demi
uang? Atau mungkin cuma
demi kepuasan?”
Sasky tak menjawab. Sungguh
ia merasa malu, pada Arian dan dirinya sendiri.
“Aku pikir kamu peduli,
peduli pada harga diri kamu sendiri… peduli padaku. Tapi
kenapa? Kenapa kamu harus
menyingkirkan kedua-duanya. Kenapa, Sas?”
Sasky masih tak bersuara.
Air matanya mulai membasahi pipinya yang mulus.
“Aku tidak mengerti.
Benar-benar tidak mengerti. Kenapa kamu seperti ini. Apa
kamu tidak memikirkan
bagaimana perasaanku saat tau semua ini. Setahun belakangan
ini, setelah aku kembali
dari Amerika, yang aku tuju hanya kamu. Aku terus mencari
tanpa lelah dan tanpa putus
harapan. Tapi apa yang aku dapat. Apa???” Suara Arian
meninggi.
“Aku tidak lagi mendapat
Sasky yang dulu. Sasky sahabatku, Sasky sahabat yang
aku sayangi. Sahabat yang
aku cintai, yang aku cintai sejak dulu, sejak sembilan tahun
yang lalu. Ya. Aku cinta
kamu, Sas. Apa kamu tau itu???” Air mata Arian tumpah seketika.
Setelah sekian lama,
akhirnya ia bisa mengungkapkan perasaannya, rasa cintanya, meski
dalam situasi yang tidak
diinginkan.
BRUKK!!!
Sasky terduduk dengan kedua
lututnya, menangis tersedu, air matanya mengalir
deras. Akhirnya ia
mendengar kata-kata itu, kata-kata yang telah ditunggunya sekian
lama, kata-kata cinta dari
orang yang juga ia cintai.
Enam tahun belakangan, ia
bukan berarti melupakan Arian. Ia terus menyimpan
harapan untuk Arian. Ia
begitu bahagia ketika ketika tau Arian telah kembali dari Amerika,
seperti yang tertulis pada
sebuah majalah Bisnis dan Ekonomi yang memasang Arian
Kumpulan
Cerpen
6
sebagai covernya. Sasky
turut bahagia dan bangga melihat nama Arian Wiguna masuk
dalam daftar 10 pengusaha
muda paling sukses. Tapi dengan keadaannya yang sekarang,
dia tak mungkin menemui
Arian. Meski begitu tak sedikitpun ia berhenti untuk mencintai.
Andai Arian tau betapa dia
merindukannya. Andai Arian mengerti kenapa ia harus
menjadi seperti ini…
menjalani hidup… sebagai kupu-kupu malam.
“Apa kamu tau. Apa kamu tau
betapa sakitnya aku saat tau keadaan kamu seperti
ini.”
Sasky menggeleng-gelengkan
kepalanya. Ia terus menangis. Betapa ingin ia
menjelaskan apa yang
terjadi.
“Aku benci kamu, Sas. Aku
benci Kamu!!! Kamu itu hina. Ya, wanita hina. Sangat
hina!!!”
“Cukup!!!” Sasky di sela
isak tangisnya.
“Cukup! Aku mohon jangan
siksa aku dengan ucapanmu. Kamu tidak tau apa-apa
tentang aku. Kamu tidak tau
kenapa aku bisa seperti ini…”
Sasky tersendak, tangisnya
makin parah. “Kalau boleh memilih, aku juga tidak
ingin, tapi… tapi aku
terpaksa, karena tidak ada jalan lain.”
“Jalan untuk apa!!! Apa ada
pembenaran untuk hal ini.”
“Terserah kamu mau menilai
aku apa. Tapi aku tidak seburuk seperti yang kamu
kira.”
“hhh?” Arian tersenyum
sinis, mengejek. “Apa ada yang lebih buruk dari ini?”
“I’m still virgin!!! Jika
itu yang ingin kamu tau.” Suara Sasky meninggi. Ia
kemudian bangkit dan segera
berlari keluar, meninggalkan Arian.
Arian tidak mengejar. Ia
membiarkan Sasky berlalu.
Arian terdiam, berpikir.
“Hh… virgin? Dia pasti sedang bercanda, mencari
pembenaran.” Sebelah hati
Arian menelan mentah-mentah ucapan Sasky. “Apa
mungkin?” Sebelah hati lainnya
menelisik.
Kumpulan
Cerpen
7
“Akkhhh… sial!” Arian
mengeluarkan ponsel, mencari nama dan segera menekan
dial. Nada tunggu berbunyi untuk
beberapa lamanya. Arian hampir saja murka, sampai
akhirnya ada yang
mengangkat.
“Maaf, maaf bos! Tadi saya ketiduran. Ada apa
bos?” terdengar
suara dari
seberang.
“Roni, ini tentang Sasky
Fahira.”
“Iya, Bos. Bos sudah ketemu orangnya kan?”
“Iya. Aku ingin kamu
mencari tau lebih jauh tentang Sasky. Tentang keluarganya,
kehidupannya jauh lebih
rinci. Semuanya, tentang Sasky aku ingin laporan lengkapnya.”
“Iya beres, Bos. Eee… sekarang ya, bos?”
Arian menghela nafas tidak
senang.
“Iya, iya sekarang. Sekarang juga saya
berangkat.” Roni,
tau betul arti helaan
nafas Bosnya.
***
“Sasky Fahira…, sebenarnya
ia adalah pendatang baru di komunitas itu. Meski
begitu, ia cukup terkenal.
Bukan karena treatmentnya, melainkan karena cara
kerjanya
‘dalam tanda kutip’. Dia
itu seorang penipu dan pencuri. Awalnya dia akan merayu para
pria hidung belang, dan
sebelum ‘bermain’ ia memberi alkohol yang telah dibubuhi obat
tidur pada kliennya. Dan
setelah kliennya tertidur pulas, ia menguras isi dompet klien
tersebut. Ia bersih, tak
tersentuh dalam batas kewajaran. Jadi mengenai apa yang dia
bilang sama bos, tentang…
‘virgin’nya itu, mungkin ada benarnya.
Lalu mengenai sebab kenapa
dia menjadi seperti sekarang, bisa jadi karena orang
tuanya. Ayah Sasky
meninggal dan saat ini ibunya sedang dirawat di rumah sakit karena
tumor. Butuh segera di operasi
sebelum tumor itu menyebar. Dan Sasky harus
mengumpulkan sejumlah uang
untuk itu. So, menjadi kupu-kupu malam mungkin satuKumpul
8
satunya jalan untuk
mendapatkan uang dalam waktu yang cepat,” Roni mengakhiri
laporannya sementara.
Arian menyimak laporan Roni
dengan seksama. Di hatinya ada setitik harapan.
Paling tidak ia tau kalau
Sasky tidak seburuk yang ia pikir.
“Lalu apa kamu tau dimana
ibunya sekarang dirawat?”
“Tentu…” Roni kemudian
menyebutkan nama salah satu rumah sakit ibukota.
“Kerja bagus, Ron.” Arian
menyungging senyum, meski tipis. Ia terdiam beberapa
saat, berfikir.
“E… bos! Saya boleh ke
ruangan saya sekarang.”
Arian mengiyakan dengan
ekpresi mukanya. Roni kemuadian segera beranjak.
“Roni!” panggil Arian. Roni
menghentikan langkahnya.
“Apa aku pernah berterima
kasih. Untuk semua hal yang telah kamu lakukan?”
“E… itu…” Roni sok berfikir
dan mengingat. Padahal dia bisa langsung menjawab
pertanyaan itu, ‘TIDAK’.
“Hhh… rupanya memang tidak
pernah ya?” Arian terdiam dan melanjutkan.
“Terima kasih. Terima
kasih, untuk semua bantuan kamu selama ini.”
Roni setengah mendelik
mendengarnya. Arian yang ‘bossy’ dan dingin bisa
mengucapkan kata terima
kasih dengan wajah tulus menyenangkan.
“Iya, pak! Eh, bos! E… saya
permisi dulu.” Roni tersenyum lebar kemudian berlalu
dari ruangan itu dengan
hati girang. Setahun sudah ia bekerja pada Arian, baru kali ini ia
mendengar kata terima kasih
dari bosnya itu.
***
Pukul 04.30, Sasky berlari
dengan tergesa-tegesa memasuki rumah sakit.
Keadaannya kacau, ada lebam
bekas tamparan di pipinya. Ya, kali ini rencananya gagal. Ia
kepergok saat akan
membubuhi obat tidur ke minuman kliennya. Akibatnya kliennya
murka dan sempat
mendaratkan tamparan. Setelah bergumul hebat, akhirnya Sasky
Kumpulan
Ce
9
berhasil melarikan diri.
Tapi ia masih harus berlari menuju jalan raya utama. Kliennya
memang mengajak Sasky ke
Villa di puncak. Dia pun harus menunggu angkutan umum
yang mulai sepi di malam
hari.
Terlambat, waktu operasi
ibunya sebenarnya pukul 20.00 malam. Tapi ia baru
bisa datang pukul 03.00
pagi. Dalam perjalanan, Sasky terus menghubungi dokter yang
akan mengoperasi ibunya
agar tidak menunda operasi, karena penyakit ibunya sudah
benar-benar akut. Operasi
memang tidak bisa dijalankan jika Sasky tidak membayar
sejumlah uang sebagai down
payment. Tadinya Sasky menyanggupi pembayaran
tersebut. Jika rencananya
berhasil dengan klien yang terakhir, maka ia bisa mencukupi
sejumlah uang muka untuk
operasi itu. Tapi kini, ia terlambat datang dan ia tak
membawa uang yang cukup.
Sasky telah sampai di
ruangan dimana ibunya biasa di rawat. Tapi ia tidak
menemukan ibunya disana. Ia
mulai panik. Pikirannya mulai kemana-mana. Ia takut
kalau-kalau ibunya telah
menghembuskan nafas terakhir sebelum ia berhasil
mengumpulkan uang untuk
operasi. Jika itu terjadi maka ia akan menyesal seumur hidup.
Sasky berlari meninggalkan
ruangan dengan cucuran air mata. Ia bermaksud
mencari dokter yang hendak
mengoperasi ibunya.
Setelah beberapa saat, ia
pun menemukan dokter tersebut, dokter Arga.
“Dokter! Apa yang terjadi
dengan ibu saya, Dokter. Kenapa dia tidak ada di
ruangannya. Saya sudah
bilang kalau saya akan membayar uang muka itu, tapi saya butuh
waktu. Saya bersumpah akan membayarnya.
Dokter bisa pegang kata-kata saya. Ibu saya
harus segera di operasi
Dokter. Dokter saya…”
“Sasky! Sasky tenang!”
“Bagaimana saya bisa tenang
dokter. Ibu saya batal di operasi dan sekarang ibu
saya… ibu saya mungkin
telah tiada. Dan itu semua karena dokter…!
“Sasky, kamu tenang dulu.
Siapa bilang ibu kamu wafat? Ibu kamu sekarang baikbaik
saja. Operasinya berjalan
lancar.”
“Apa? Operasi? Jadi… ibu…
sudah dioperasi. Tapi…”
Kumpulan
C
10
Dokter Arga mengedipkan kedua
matanya meng’iya’kan sembari senyum.
***
“Ibu kamu sedang tertidur.
Pengaruh obat bius pasca operasi”, ujar dokter Arga
setelah mengantar Sasky
melihat ibunya.
“Terima kasih, dok! Tentang
sejumlah uang itu, saya janji akan membayarnya.”
Sasky
Dokter Arga tersenyum.
“Kamu tidak usah khawatir. Semua pembayaran sudah
ditanggung. Jadi kamu tidak
tidak usah memikirkannya lagi.”
“S-s-sudah ditanggung? Oleh
siapa? Dokter?
Dokter Arga kembali
tersenyum. “Bukan saya.”
“Bukan dokter? Lalu siapa?”
“Aku.” Terdengar suara dari
belakang Sasky. Sasky segara membalikkan badannya
dan,
“Arian!!! K-k-kamu…?” Sasky
seakan tidak percaya.
“Iya.” Arian berjalan
mendekat.
“Tapi… bagaimana mungkin.
Darimana kamu tau, dan… dan bukanya kamu benci,
jijik sama aku?”
Arian menyungging senyum,
“Apa tidak boleh?”
Dokter Arga pun beranjak
dari tempatnya, memberi ruang untuk Sasky dan Arian.
***
“Jadi, berapa lama waktu
yang kamu inginkan?”
“Waktu untuk apa?” Arian
tidak mengerti.
“Aku tau diri. Tidak ada
yang gratis di dunia ini. Jadi seberapa lamapun kamu
ingin aku menemanimu, aku
siap.”
“Jadi? Kamu berfikir aku
melakukan semua ini untuk tubuh kamu?”
Kumpulan
Cerpen
11
“Lalu? Memang itu kan yang
kamu mau?”
Arian terdiam dan mulai
angkat bicara setelah beberapa saat. “Baiklah, jika itu
yang kamu inginkan.”
Arian kembali diam sesaat
dan melanjutkan, “Bagaimana kalau selamanya,
sampai aku tua, seumur
hidup aku.”
“Apa?” Sasky tidak percaya
dengan apa yang di dengarnya. Serakah, pikirnya.
Tadinya ia berharap Arian
akan menolak tawaranya karena Arian membantunya atas
dasar ketulusan dan karena
mereka dulu pernah bersahabat, tapi ternyata Arian tidak
ada bedanya dengan pria
hidung belang lainnya.
Susah payah saski menelan
ludahnya. Air matanya jatuh berbulir menuruni
pipinya. Ia benar-benar
kecewa dengan Arian. Mungkin Arian saat ini memang hanya
memandangnya sebagai gadis
murahan penjaja badan.
“Ya. Selamanya,
disampingku. Menemani aku… sebagai pasangan hidup.” Arian
lalu mengeluarkan sesuatu
dari saku celananya, sebuah cincin. Lalu terduduk dengan
salah satu lututnya.
Sasky seperti tercekat
mendengar ucapan Arian barusan. Jika tidak salah ini
adalah sebuah lamaran.
Mirip dengan adegan dalam opera roman.
“Sebagai istri aku….
Menikahlah denganku! Kamu kamu kan?” pinta Arian.
“Hhhh??? Tapi…” Dari semua
ketidak percayaan yang Sasky punya, hal inilah yang
paling membuatnya tidak
percaya. Ini benar-benar sebuah lamaran. Arian benar-benar
melamarnya.
“Kamu tidak sedang
meledekku kan?”
“Apa aku terlihat seperti
sedang bercanda?”
Sasky tidak sanggup
berkata-kata lagi, diantara rasa bahagia dan tak percaya. Ia
lalu menatap dalam mata
indah Arian mencari pembenaran, dan ia menemukan
ketulusan disana.
Sasky kembali menitikkan
air matanya. Ia terlalu haru dan bahagia. Terlebih saat
Arian menyematkan cincin
itu ke jari manisnya.
Kumpula
12
Arian beranjak dari
duduknya. Menggenggam hangat tangan Sasky lalu
menatapnya lekat-lekat.
“Ini artinya kamu setuju
kan?” ujar Arian lembut.
Tangis Sasky makin
menjadi-jadi. Ia menutup rapat mulutnya dengan cucuran air
mata. Ia masih tidak bisa
berkata-kata. Ia mengangguk-angguk dan segera memeluk Arian
Arian pun tersenyum bahagia
dan ia mengeratkan pelukannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
